Adat istiadat lokal memang merupakan warisan leluhur yang harus dijaga
dan dilestarikan. Namun kadang ada juga aturan adat yang harus
dipertimbangkan kembali dengan akal sehat. Misalnya aturan Ngelangkahi
untuk Adik yang menikah duluan.
Menjalani kehidupan berkeluarga di Indonesia, memang
masih banyak aturan adat yang berlaku dan mau tak mau harus dituruti.
Namun bagaimana dengan aturan "ngelangkahi" yang masih banyak dipegang,
saat tidak bolehnya seorang adik lebih dulu menikah sebelum kakaknya,
karena nantinya si kakak akan sial? Aturan ini seringkali terasa
memberatkan, karena urusan jodoh sulit diprediksi, bukan?
Menurut
psikolog Irma Makarim, tiap keluarga punya kebiasaan, aturan, dan adat
yang diikutinya. Salah satunya adalah adat dari tradisi lama, yang tak
menganjurkan seorang adik untuk menikah mendahului kakaknya. Saat ini
sebagian besar keluarga sudah meninggalkannya karena dianggap menghambat
kebahagiaan seseorang, tetapi sebagian lain masih mempertahankan adat
ini.
Nglangkahi merupakan salah satu tradisi Timur, khususnya di
Indonesia, yang dilandasi oleh sikap hormat kepada orang yang lebih tua.
Psikolog Rieny Hasan bahkan mengatakan; namanya saja sudah mitos, tak
ada landasan kuat untuk mempercayainya, secara akal sehat maupun
dikaitkan dengan agama yang dianut. Namun, di sisi lain, kalau ini
dipercaya maka seakan-akan bisa ampuh, artinya lalu terbukti benar.
Kemasan-kemasan pikiran dan ujaran negatif ini dalam bahasa Inggris disebut Killing words, karena pada akhirnya akan menghunjam ke diri si pembicara sendiri. Di dalam ilmu psikologi, kondisi ini dikenal dengan nama Self-fulfilling prophecy.
Kira-kira artinya: setiap kata-kata atau keyakinan atau sikap terhadap
sesuatu maupun kondisi tertentu yang kita bayangkan dan sekaligus yang
kita percaya akan terjadi pada diri kita, biasanya berpeluang amat besar
untuk benar- benar terjadi.
Nah, kalau sudah demikian, yang
semestinya tak terjadi pun bisa jadi kenyataan! Dari sinilah pangkal
munculnya nasihat yang sudah sering kita dengar: berpikir positif.
Sederhana, tapi implementasinya sukar. Karena sebagai mahluk sosial,
manusia selalu punya harapan dan keinginan yang terkait dengan
keberadaan kita bersama orang lain di dunia ini. Maka, muncullah
keinginan untuk menyenangkan orangtua kita.
Jadinya, didahului
adik menikah, tidak dianggap sebagai belum datangnya jodoh, melainkan
aib bagi keluarga. Padahal, kita semua tahu bahwa jodoh itu di tangan
Tuhan. Padahal, menurutnya, tak ada salahnya jika adik menikah duluan.
"Tidak perlu percaya Anda akan sial kalau dilangkahi." Cobalah untuk
lebih rajin menoleh ke sekeliling kita. Banyak, lho, yang pernah
keduluan menikah oleh adiknya tapi baik-baik saja hidupnya. Kalau Anda
tampak tenang dan bisa menguasai diri, pastilah sikap dan perlakuan
lingkungan akan berubah menghargai Anda.
Begitu juga jika Anda
berada dalam posisi adik yang hendak menikah lebih dulu. Menurut
psikolog Monty Satiadarma, dalam kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga
tentu ada kaidah dan kesepakatan sosial yang layak dipertimbangkan,
walau tak senantiasa harus sepenuhnya ditaati. Kepedulian sosial
merupakan suatu hal yang perlu dipertimbangkan atas landasan etika
nurani, akan tetapi adakalanya pengambilan keputusan harus tetap
dilakukan guna melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya.
Layak
kiranya Anda minta persetujuan dari kakak untuk 'melangkahi', tapi tidak
layak jika kemudian Anda menyerahkan keputusan hidup Anda di tangan
kakak. Layaklah Anda menaruh respek kepada kakak dan mencintainya,
tetapi bukan berarti Anda harus sepenuhnya menggantungkan keputusan di
tangan orang lain. Anda tentu tak berniat menyakiti hati orang yang Anda
cintai, tetapi jika Anda harus mengambil keputusan demi kehidupan Anda
sendiri di masa depan, langkah itu tetap harus ditempuh. Adakalanya kita
tidak bisa mengambil keputusan guna menyenangkan hati orang lain
semata-mata, namun dengan demikian kita justru akan menyangkal diri kita
sendiri.
Menjalani hidup bukan hanya untuk menyenangkan hati
semua orang. Perkara jodoh, itu merupakan salah satu bentuk takdir.
Masa, harus melepas orang yang memang sudah cocok dan siap menikah,
hanya karena kakak takut sepanjang hidupnya menjadi sial? Di sinilah
kemampuan komunikasi Anda dengan orangtua dan kakak diuji. Sebaik apa
Anda mampu meyakinkan seluruh pihak, bahwa mitos tak selalu benar?
Sumber : keluarga.com
'Melangkahi' kakak bisa membawa sial? Masa sih?
Info Post
0 komentar:
Posting Komentar